Saodor Ensemble

Saodor Ensemble adalah kolektif musik eksperimental asal Indonesia yang mengeksplorasi persimpangan tradisi musik Nusantara dengan inovasi kontemporer. Sebagai grup musik yang berangkat dari tradisi Batak Toba, mereka telah tampil di pentas dunia seperti Classical:NEXT Berlin dan Undercurrent Festival London 2025. Nama “saodor” berasal dari kata “sauduran” dalam bahasa Batak Toba yang berarti sejajar—sebuah visi untuk melebur batas dan menciptakan kesetaraan.

Tentang Saodor Ensemble

Saodor Ensemble merupakan kolektif musik dan seni suara yang berfokus pada eksplorasi lintas tradisi, praktik eksperimental, dan performativitas ruang. Berangkat dari latar belakang musik klasik, musik kontemporer, dan tradisi vokal-ritual Indonesia, grup musik ini bekerja dengan komposisi baru, improvisasi terstruktur, serta teknologi suara.

Sebagai jenis ansambel musik yang unik, Saodor mengelaborasi multi-idiom budaya musik Nusantara melalui instrumen tradisional: gendang Sumatra Utara, gamelan-gong, sulim (seruling Sumatra), vokal Sumatra, dan kacaping (alat petik Sulawesi Selatan). Instrumen ini dipadukan dengan piano akustik, bass, dan suara elektronik untuk menciptakan kemungkinan bunyi baru.

 

Saodor Ensemble Grup Musik Independen berkolaborasi bersama Indonesia Istimewa Studio

Visi Saodor Ensemble

Saodor Ensemble memandang mobilitas artistik sebagai perjalanan dekolonisasi dan penegasan identitas budaya Batak Toba di panggung global. Melalui pertemuan antara tradisi lisan Andung, instrumen adat Batak, serta elemen musik eksperimental, ansambel musik ini menghadirkan suara yang berakar pada spiritualitas lokal namun terbuka terhadap percakapan lintas budaya.

Visi ini bertujuan menciptakan ruang dengar yang setara, di mana pengetahuan leluhur dan inovasi modern saling menghidupi.

Sebagai musisi Indonesia yang konsisten dengan nilai-nilai ini, Saodor menempatkan tubuh, suara, dan kearifan lokal sebagai medium utama untuk merundingkan kemungkinan transformatif di masa kini.

Misi Utama

Karya Unggulan Saodor Ensemble "Lungun" dari Tradisi Andung

Lungun (2024) adalah karya utama yang membawa Saodor Ensemble ke perhatian internasional. Karya ini merupakan rekonstruksi performans suara dari tradisi ratapan masyarakat Batak Toba yang disebut andung atau mangandung: suara tangis, ungkapan, dan doa yang hadir ketika seseorang meninggal.

Melalui nyanyian ini, komunitas Batak menjembatani dunia manusia dengan dunia leluhur. Bagi orang Batak, kehidupan dan kematian adalah dua momen yang saling terhubung, bukan sekadar awal dan akhir. Karya ini merespons sisi lain musik vokal Indonesia yang jarang terdengar di panggung global—tradisi yang nyaris tenggelam di balik citra “musik Indonesia” yang sering diwakili gamelan.

Komposer Yessica Yosia Virginia Simanjuntak berangkat dari rekaman etnografi, cerita lisan, dan memori pribadi terhadap praktik andung, lalu mengolahnya menjadi komposisi kamar melalui dialog antara suara perempuan dan laki-laki, piano dengan teknik diperluas, serta instrumen tiup khas Sumatra Utara.

Visi ini bertujuan menciptakan ruang dengar yang setara, di mana pengetahuan leluhur dan inovasi modern saling menghidupi.

Sebagai musisi Indonesia yang konsisten dengan nilai-nilai ini, Saodor menempatkan tubuh, suara, dan kearifan lokal sebagai medium utama untuk merundingkan kemungkinan transformatif di masa kini.

anggota

yessica saodor

Yessica Yosia Virginia Simanjuntak

fardian saodor

Fardian

natalius saodor

Natalius Simarmata

dela saodor

Dela Fotyana Marpaung

louise saodor

Louise Marie Grignion De Monfort Mitak

jazz saodor

Jazz Baldwin Parluhutan Situmorang

Akademika Bentara

Indonesia | 2024

RECAKA: Festival Musik Tradisi Indonesia

Indonesia | 2025

Classical:NEXT

Berlin | 2025

Undercurrent - ESEA Sound & Performance Festival

London | 2025

Pertunjukan dan Kuratorial

Perjalanan Saodor Ensemble ke panggung internasional menandai babak baru bagi representasi musik Indonesia di kancah global.

Classical:NEXT di Berlin merupakan platform bergengsi yang mempertemukan profesional industri musik klasik dan kontemporer dari seluruh dunia. Terpilihnya Saodor Ensemble menunjukkan bahwa pendekatan mereka terhadap musik tradisi Indonesia memiliki relevansi di level internasional.

Penampilan di Undercurrent Festival London semakin menegaskan posisi mereka sebagai musisi Indonesia di pentas dunia. Setelah pertunjukan tersebut, Saodor aktif mencari peluang untuk mempromosikan karya mereka kepada audiens musik global sebagai representasi unik grup musik Indonesia.

Melalui nyanyian ini, komunitas Batak menjembatani dunia manusia dengan dunia leluhur. Bagi orang Batak, kehidupan dan kematian adalah dua momen yang saling terhubung, bukan sekadar awal dan akhir. Karya ini menunjukkan sisi lain dari musik vokal Indonesia. Sisi ini jarang terdengar di panggung global. Tradisi ini hampir tenggelam di balik citra “musik Indonesia” yang sering diwakili oleh gamelan.

Komposer Yessica Yosia Virginia Simanjuntak berangkat dari rekaman etnografi, cerita lisan, dan memori pribadi terhadap praktik andung, lalu mengolahnya menjadi komposisi kamar melalui dialog antara suara perempuan dan laki-laki, piano dengan teknik diperluas, serta instrumen tiup khas Sumatra Utara.

Visi ini bertujuan menciptakan ruang dengar yang setara, di mana pengetahuan leluhur dan inovasi modern saling menghidupi.

Sebagai musisi Indonesia yang konsisten dengan nilai-nilai ini, Saodor menempatkan tubuh, suara, dan kearifan lokal sebagai medium utama untuk merundingkan kemungkinan transformatif di masa kini.

Tour London 2025

Dengan bangga menampilkan musik Indonesia di panggung Undercurrent – ESEA Sound and Performance Art 2025

Arsip Showcase Terbaru

“FAD Magazine on undercurrent: ESEA Performance and Sound Art Festival

“The diversity of voices and practices has long enriched the contemporary art world, yet certain communities and art forms remain persistently underrepresented. Among these are East and Southeast Asian (ESEA) artists, whose contributions often exist on the margins, and the ephemeral, time‐based mediums of sound and performance art, which face challenges in gaining recognition within traditional exhibition contexts.” — FAD Magazine, 30 Agustus 2025.

 

Saodor Ensemble hadir dengan karya Lungun, memadukan tradisi vokal Batak Toba dengan piano, sulim, dan elektronik live, sebagai representasi musik Indonesia dalam percakapan global ESEA.

FAQ - Saodor Ensemble

Saodor Ensemble adalah kolektif musik eksperimental asal Indonesia yang mengeksplorasi pertemuan tradisi musik Nusantara dengan pendekatan kontemporer dan elektronik. Nama “saodor” berasal dari “sauduran” dalam bahasa Batak Toba yang berarti sejajar.

Saodor memainkan jenis ansambel musik hybrid yang menggabungkan instrumen tradisional Indonesia seperti gendang Batak, sulim, gamelan, dan kacaping dengan piano, bass, dan elemen elektronik untuk menciptakan suara eksperimental kontemporer.

Saodor Ensemble telah tampil di Undercurrent ESEA Sound & Performance Art Festival di London 2025, dan memenangkan nominasi Showcase terpilih Classical:NEXT 2025 di Berlin, dua platform bergengsi untuk musisi Indonesia di pentas dunia.

Karya utama adalah “Lungun” (2024), rekonstruksi performans suara dari tradisi ratapan andung masyarakat Batak Toba yang menggabungkan vokal tradisional, piano dengan teknik diperluas, dan instrumen tiup Sumatra Utara.

 

Ya, Saodor Ensemble aktif membangun jejaring dengan festival, ruang alternatif, dan institusi seni global. Mereka terbuka untuk kolaborasi dengan seniman dari berbagai belahan dunia yang memiliki visi serupa.

Scroll to Top