Saodor Ensemble Bawa Andung Batak ke Pameran Seni Kontemporer di London

Saodor Ensemble Grup Musik Independen berkolaborasi bersama Indonesia Istimewa Studio

London, 9 November 2025 — Saodor Ensemble, kolektif musik kontemporer Indonesia, sukses menampilkan karya “Lungun” dalam program satelit Undercurrent: ESEA Sound & Performance Art Festival 2025 di Centre 151, London. Pementasan ini terlaksana dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai wujud nyata implementasi Kongres Musik Indonesia (KMI) 2025 yang mendorong musisi Indonesia untuk tampil di forum seni internasional.

Karya “Lungun” mengangkat tradisi vokal Andung (tradisi ratapan masyarakat Batak Toba), dikemas melalui pendekatan format musik eksperimental. Lewat penampilan di London, Saodor Ensemble menghadirkan ruang dengar baru yang memadukan ekspresi, tubuh, dan adaptasi teknologi audio kepada audiens East & Southeast Asian (ESEA) dan komunitas seni global.


Siapa Saodor Ensemble?

Saodor Ensemble lahir dari kebutuhan untuk membaca ulang sastra lisan dan musik Indonesia melalui pendekatan kontemporer. Beranggotakan musisi dan seniman lintas latar belakang, Saodor mengeksplorasi vokal tradisional, sastra lisan, instrumen akustik, dan pemrosesan elektronik untuk membentuk lanskap suara baru. Memasuki tahun 2025, Saodor Ensemble memfokuskan eksplorasinya pada musik vokal Sumatra Utara, khususnya tradisi masyarakat Batak. Namun pendekatan mereka berbeda dari bentuk ekspresi yang hidup di Sumatra; Saodor melihat tradisi melalui perspektif diaspora, sebagai pengetahuan yang terus bertumbuh, beradaptasi, dan menemukan kemungkinan baru ketika bertemu ruang yang berbeda. Karena itu, karya-karya mereka memadukan elemen tradisi (lokal) dengan media baru, elektronik, dan praktik performatif, menghasilkan bentuk ekspresi yang tidak hanya menjaga kedekatan dengan akar budaya, tetapi juga membuka arah perkembangan yang lebih luas.


“Lungun”: Suara duka, ingatan, dan ratapan


“Lungun” berangkat dari tradisi Andung, nyanyian ratapan dalam budaya Batak Toba yang hadir dalam momen duka, perpisahan, dan penghormatan. Dalam karya ini, pola-pola vokal Andung diteliti kembali melalui pendekatan seni berbasis riset: struktur melodinya dipetakan, gestur vokalnya diobservasi dari praktik lapangan tahun 2024, lalu diolah menjadi material komposisi musik. Motif-motif tersebut kemudian diurai, diulang, dan diproses secara elektronik.


Membawa Musik Indonesia ke London

Undangan tampil di undercurrent: ESEA Sound and Performance Art Festival 2025 menempatkan Saodor Ensemble di tengah jejaring seniman suara dari kawasan East & Southeast Asia dan diaspora. Di London, “Lungun” hadir sebagai representasi lain dari musik Indonesia, bukan sekadar “world music” yang eksotis, melainkan praktik artistik yang kritis dan sadar konteks. Bagi Saodor, panggung ini menjadi kesempatan untuk membuka percakapan baru tentang bagaimana tradisi dapat dinegosiasikan ulang dalam ruang global.


Jejak perjalanan Saodor

Sebelum tampil di London, Saodor telah melalui beberapa tonggak penting dalam perjalanannya. Grup ini sempat terpilih melalui proses kurasi untuk tampil di Classical:NEXT 2025 (Berlin), salah satu platform internasional penting bagi pelaku musik inovatif di Jerman, meski showcase akhirnya harus dibatalkan karena keterbatasan pendanaan internal grup. Di tingkat nasional, Saodor juga tampil dalam Forum Festival Musik Tradisi Indonesia: Recaka 2025 (FMTI), yang menandai peran mereka dalam menguatkan ekosistem musik kontemporer dan eksperimental di Indonesia.

Kisah Saodor Ensemble memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat dihadirkan secara relevan di panggung internasional tanpa kehilangan kedalaman konteksnya. Di saat yang sama, pengalaman mereka menggarisbawahi tantangan struktural yang masih dihadapi musisi eksperimental Indonesia, mulai dari akses pendanaan hingga jaringan presentasi. Melalui karya seperti “Lungun”, Saodor membuka kemungkinan baru bagi generasi muda untuk melihat musik tradisi bukan sebagai sesuatu yang beku, melainkan ruang eksplorasi kreatif dan diplomasi budaya.

Ke depan, Saodor Ensemble berencana melanjutkan eksplorasi atas teks-teks bunyi dari daerah lain di Indonesia, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas negara. “Lungun” di London menjadi salah satu langkah awal untuk menempatkan warisan budaya Indonesia dalam percakapan global tentang lewat musik.


 

Share the Post:

Related Posts

Scroll to Top